Sumatera Utara dan Kesejahteran
SUMATERA UTARA DALAM KONTEKS KESEJAHTERAAN
Oleh : Ananda Prasetya Anugerah Pohan
Pendiri
Indonesian Politik Analisis Institue & Direktur Masriadi Pasaribu Center
Kesejahteraan
adalah kata-kata yang mungkin saja terlintas dan menjadi perbincangan bagi setiap
individu maupun kelompok. Kaum behavioralis sejak dulu telah menghabiskan
banyak energi dalam memperjuangkan apa yang
terbaik untuk masyarakat dalam menggapai tujuannya. Kesejahteraan menjadi buah
bibir sekaligus senjata para pelaku politik maupun pemerintah (government)
dalam melakukan tindakan seremonial dalam mencuri simpati rakyat. Akan tepai
dalam realisasinya semua hanya harapan belaka. Kompleksitas di Indonesia baik
pusat maupun daerah menyebabkan kontradiksi pemahaman dalam kesejahteraan. Program
pemerintah mengenai kesejahteraan rakyat hampir menjadi sebuah rancangan selalu
hadir dalam sebuah program kerja. Dalam
konteks social-ekonomi persoalan mendasar dalam mewujudkan welfare state adalah bagaimana Negara benar-benar menjamin bahwa kompetisi
pasar tidak cenderung kapitalistik. Asumsinya adalah liberalisme merupakan
gerbang dari kebebasan pasar dimana hal
ini merupakan ancaman bagi kelas menengah kebawah bahkan kaum marjinal.dalam
mencari solusi tentu saja bukan sesuatu hal yang mudah.
Krisis
ekonomi dan tingginya angka pengangguran di Sumatra Utara berdampak cukup
serius pada tingkat kemiskinan yang terjadi di provinsi ini. Negara (Pemprovsu)
gagal dalam mewujudkan gagasan Welfare
state. Kinerja pemerintah dalam menurunkan angka kemiskinan maupun
pengangguran stagnan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik mencatat dari
bulan maret 2016 ke September 2016 penduduk miskin hanya berkurang sejulah
3.400 orang. Pada September 2016 jumlah penduduk miskin mencapai 1.452.550
orang atau 10,27%. Sementara pada maret 2016 julah penduduk miskin 1.455.950
orang atau 10,35%. Dari data tersebut ada upaya dari pemprov sumut untuk
menurunkan angka kemiskinan tersebut. Akan tetapi substansinya adalah ketika
kemiskinan mencapai angka 10% artinya Negara (pemprovsu) masih gagal dalam
menjalankan pelayanannya terhadap masyarakat. Pemerintah adalah the rule class. Sumber daya alam yang
ada di sumatra utara cukup banyak untuk dijadikan lapangan pekerjaan guna
menurunkan angka kemiskinan. Otoritas pemerintah seyogyanya merupakan ujung
tombak bagi rakyat dalam memberikan kesejahteraan untuk hidup layak. Program
pemerintah sumut melalui program bantuan tunai itu merupakan suatu hal yang
mustahil dalam menekan angka kemiskinan. Kemiskinan tidak berakar pada ukuran
meteril melainkan ada alasan yag cukup kompleks dalam menjelaskan menekan angka
kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan rakyat.
Kita
harus menyadari bahwa perubahan kesejahteraan masyarakat merupaka bagian yang
tidak terpisahkan dari pertumbuhan ekonomi. Keberhasilan tingkatan ekonomi jika
tidak di seimbangkan antar masyarakat akan menyebabkan kesenjangan social.
Todaro dan Stepen C. Smith (2006) kesejahteraan masyarakat menunjukkan hasil
pembangunan masyarakat dalam mencapai kehidupan yang lebih baik yaitu :1.
Peingkatan kemampuan dan pemerataan distribusi kebutuhan dasar seperti makanan,
perumahan, kesehatan, dan perlindungan. 2. Peningkatan tingkat kehidupan,
tingkat pendapatan, pendidikan yang lebih baik, dan peningkatan atensi terhadap
budaya dan nilai-nilai kemanusiaan. 3. Memperluas skala ekonomi dan
ketersediaan pilihan social dari individu dan bangsa. Ketiga hal diatas
merupakan cerminan yang wajib dilakukan oleh Negara (pemprovsu) sebagai
pemegang otoritas dan menjamin warga Negara (citizenship) apakah telah terwujud
atau hanya mimpi bagi rakyat sumatera utara. Pemprov sumut dalam hal ini harus
bertanggung jawab kepada masyarakat yang belum terpenuhi dalam ketiga aspek
tersebut.
Secara klasifikasi kesejahteraan masyarkat di
kategorisisaikan pada tiga model : classical
utilitarium, neoclassical welfare theory, new contraction approach Badrudin,
2012). Classical utilitarium menekankan
pada aspek kepuasan seseorang dapat diukur dan bertambah, tingkat kepuasan
setiap individu dapat dibandingkan secara kuantitatif. Neoclassical
welfare menekankan pada prinsip pareto
optimaly yaitu sebagai sebuah posisi dimana tidak memungkinkan suatu
realokasi input atau output untuk membuat seseorang menjadi lebih baik tanpa
menyebabkan sedikitnya satu orang atau lebih buruk. New contraction approach menekankan pada konsep dimana setiap
individu memiliki kebebasan maksimum dalam hidupnya. Secaris garis besar
kategori ini dilihat dari tingkat sejauh mana seseorang mengalami tingkat
kepuasan dan kesenangan dalam hidupnya. Word Bank (2000) merumuskan indicator
kesejahteraan masyarakat sebagai indicator pembangunan ekonomi, khususnya
pembangunan manusia dan kemiskinan. Rumusan itu disebut sebagai Millenium development goals (MDGs). Ada
delapan point indicator untuk mencapai pembangunan yaitu : penghapusan
kemiskinan, pendidikan untuk semua, persamaan gender, perlawanan terhadap
penyakit menular, penurunan angka kematian anak, peningkatan kesehatan ibu,
pelestarian lingkungan hidup, dan kerja sama global.
Resolusi dalam menekan kemiskinan dan meuwujudkan
kesejahteraan adalah pemerintah harus memberikan kebijakan yang memiliki
feedback secara langsung terhadap rakyat. Pemerintah harus menjadi fasilitator
dan mebuka peluang potensi-potensi yang ada disetiap daerah. Ada sinergi antara
daerah tingkat I dan II dalam mewujudkan kesejahteraan ini. Membuka lapangan
pekerjaan, memberikan pelatihan rutin, bantuan modal usaha tentu saja dapat
dilakukan sebagai penegendali otoritas. Contoh lain dengan bekerja sama dengan
BUMN atau BUMD dalam pengelolaan dana CSR yang tentu saja menjadi modal besar
dalam memberikan pelayanan secara langusng kepada rakyat yang membutuhkan.
bantuan-bantuan lain seperti bantuan nelayan, pupuk untuk petani haruslah tepat
sasaran. Sebab hal-hal dasar seperti ini merupakan rangkaian atau titik awal
dalam menuju kesejahteraan. Welfare state
merupakan cita-cita kita bersama, gagasan ini harus diwujudkan melalui
pelayanan dan memeberikan resolusi bagi masyarakat agar dapat hidup layak
sehingga dengan kesejahteraan terwujud kondisi atau stabilitas politik akan
terjaga.
Komentar
Posting Komentar