Local Democracy
DEMOKRASI LOKAL
Oleh : Ananda Prasetya Anugerah pohan
Pendiri
Indonesia Analisis Institute
Proses politik di dunia telah
mengalami evolusi. Mulai dari sistem monarki, oligarki, aristokrasi hingga
demokrasi. Demokrasi bukan satu-satunya jawaban dalam sistem tatanan negara,
sebagaimana michels (1911) demokrasi adalah sistem yang buruk diantara terburuk.
Artinya adalah demokrasi lahir sebagai bentuk jaminan bagi publik agar dapat menentukan dan
mengambil keputusan untuk kelangsungan hidupnya. Lalu publik yang seperti apa?
Bagaimana demokrastisasi
itu bekerja di masyarakat?
Hal
ini yang menjadi landasan utama dalam melihat perspektif demokrasi.
Demokrasi kontemporer saat ini pada hakikatnya menjadi corong dari
berbagai aspek yang menyangkut hidup orang banyak. Tapi pada kenyataannya
demokrasi mampu menjadi suatu system yng
menakutkan dan mampu mengancam keutuhan sebuah negara.
Pada awalnya banyak pakar yang berasumsi bahwa munculnya semangat demokrasi
menjadi kran untuk membuka peluang baru bagi publik untuk
berpartisipasi secara langsung dalam melakukan kontrol terhadap penguasa. Sehingga pola relasi antara penguasa dan masyarakat
dapat berjalan sebagai suatu system yang dapat memastikan bekerjanya proses
demokratisasi itu.
Gelombang
demokrasi yang masuk ke Indonesia pasca runtuhnya rezim otoritarianisme
(reformasi) setidaknya jika dibandingkan dengan zaman orde baru silam telah
membawa perubahan khususnya terhadap kebebasan individu maupun kelompok. Hanya
saja yang menjadi dilema adalah ketika laten orde baru masih mengakar di era
reformasi maupun pada saat proses demokratisasi berlangsung. Doktrin orde baru
yang begitu luar biasa khususnya penguasa (Negara) pada masa itu menyisahkan
kondisi social masyarakat terhadap mentalitas dan kedewasaan dalam berpolitik. Hegemoni
dalam mempraktekkan Negara pada masa orde baru yang telah memarginalkan
masyarakat local perlu dilakukan revitalisasi baik ditatanan social, ekonomi
maupun aspek lainnya. Penguatan kembali identitas local adalah salah satu wujud
dari proses demokrasi tersebut sehingga nilai-nilai adat, kultur, kearifan
dapat dirancang dan disusun kembali.
Ketika proses
ini telah berjalan maka proses politik ditingkat local akan berjalan
sebagaimana asumsi pakar diatas setidaknya bentuk partisipasi politik
masyarakat tidak berada hanya dijalur sebagai penonton dan sekali dalam setiap
lima tahun. Sebab sebagaimana Ramlan Surbakti (1992) proses politik dapat
dipandang dalam beberapa konteks. A. Usaha yang dtempuh warga Negara untuk
membicarakan dan kebaikan bersama (kolektifitas). B. Segala hal yang berkaitan
dengan penyelenggaraan Negara dan pemerintahan. C. Segala kegiatan yang
diarahkan untuk mencari dan memepertahankan kekuasaan dalam masyarakat. D.
kegiatan yang berkaitan dengan perumusan dan pelaksanaan kebijakann umum. E.
Sebagai konflik dalam rangka mencari atau memepertahankan sumber yang dianggap
penting.
Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah apakah
demokratisasi itu telah berjalan? Ada banyak perspektif dan pandangan dalam
menjawab pertanyan ini. Kecenderungan politisi, elit, bahkan masyarakat
mendefenisikan demokrasi hanya seperti asumsi diatas adalah kebebasan.
Akibatnya adalah para actor politik memainkan politik dengan menghalalkan
berbagai cara untuk merebut kekuasaan. Pola patronklien politik yang dilakukan
para politisi sadar atau tidak menjadi tren dalam beberapa kontestasi politik
ditingkat local. Pendidikan politik yang diberikan dengan iming-iming, hadiah,
money politik, merusak system, intimidasi dianggap sebagai suatu hal yang
lumrah terjadi dalam dinamika politik local. Kebanyakan asumsi para actor
politik local bahwa kebebasan yang dimaknai merujuk pada aspek negative hingga
menjadi budaya politik dalam konteks perebutan kekuasaan. Akibatnya muncul
raja-raja kecil di daerah seperti dinasti politik, money politik, korupsi,
kolusi dan nepotisme. Disisi lain factor ekonomi, kesetaraan social masyarakat
menjadi momok menyedihkan dalam proses politik tingkat local. Kemiskinan,
kesenjangan social menjadikan masyarkat cenderung apatis terhadap proses
politik yang ada. Kesalahpahaman ini tidak dapat dihentikan juga dikarenakan
lemahnya titik hukum yang ada. Terjadi tumpang tindih yang akibatnya merajalela
pelaku-pelaku politik untuk bertindak
semena-mena dan hilangnya irasional politik masyarakat dalam melihat fenomena
ini.
Sebenarnya jauh kedalam dalam memaknai demokrasi yaitu
adanya nilai-nilai yang dibawa oleh demokrasi. Kita selama ini terjebak dengan
kata-kata “kebebasan”. Faktanya dapat dilihat disekitar atau lingkungan seperti
media cetak, cyber, dan sumber infromasi lainnya. Demokrasi meskipun pada
hakikatnya adalah kebebasan sebenarnya memiliki batasan baik individu maupun
kelompok. Batasan tersebut yang menjadi hak dan kewajiban bagi setiap warga
Negara dalam mengungakapkan partisipasi politiknya. Kebebasan dalam demokrasi
tidak hanya sebatas pendapat, melainkan ada nilai lain yaitu bagaimana dampak
demokrasi tersebut di tatanan warga Negara. Apa implikasi demokrasi dan
hasilnya terhadap masyarakat. Baik penguasa maupun warganegara (citizenship)
seharusnya memikirkan bagaimana legitimasi dan dampak baik dan buruknya.
Efektifitas demokrasi sangat bergantung pada rejim siapa yang menjalankan roda
pemerintahan (government). Disisi lain seperti halnya isu kesetaraan hak
politik sebagaimana yang dikemukakan Holden (1988) bahwa seluruh warga Negara
dalam politik memiliki hak yang sama meskipun kenyataan dalam implementasi banyak
kesenjangan yang terjadi. Untuk itu pemerintah dapat menghadirkan kebijakan melalui
kelompok minortas termasuk gender. Kesetaraan yang dimaksud disini adalah
setiap warga Negara harus mendapatkan kebutuhan yang sama meskipun dengan
keadaan dan tingkat kebutuhan masing-masing berbeda. Tetapi dalam regulasinya penting
sekali untuk diperjelas posisi masing-masing warga Negara memiliki batasan hak
dengan kebebasan individu maupun kelompok lainnya. Dalam hal ini sangat
dibutuhkan aturan (rule of law) yang benar-benar dapat diterapkan dengan baik
dan pelaku-pelaku yang memiliki nilai demikian baik pula yaitu kompetensi, moralitas, kapasitas yang
baik.
Komentar
Posting Komentar