Barus Kota Bertuah



BARUS
“Kota Bertuah nan Terlupakan”
Penulis : Ananda Prasetya Anugerah Pohan
Pendiri Indonesia Politik Analisis Institute dan Direktur Masriadi Pasaribu Center
Di sudut pesisir barat pantai sumatera tepatnya kabupaten Tapanuli Tengah provinsi Sumatera Utara ada sebuah kota kecil dikeliligi samudera dengan segala keindahan alamnya yaitu kota Barus. Barus merupakan kota eksotis yang pada saat ini sering terlupakan bagi sebagian orang maupun ilmuan tentang bagaimana history dan keberadaannya dalam sejarah perkembangan ummat manusia. Barus yang langsung berbatasan dengan samudera Hindia merupakan emporium dan pusat peradaban pada masa abad ke 1-17M dan jaman dauhulu dikenal dengan fansur. Pada masa lalu kapur barus dan rempah-rempah merupakan salah satu komoditas perdagangan yang sangat berharga dari daerah ini dan menjadi sumber perdagangan manca Negara mulai dari Arab, Persia. Kapur barus yang wangi ini menajdi sumber pengolahan obat-obatan di negeri arab dan Persia. Kehebatan kapur ini kemudian menjalar ke seluruh dunia dan mengakibatkan diburu sehingga mengakibatkan harganya semakin tinggi.[1]
Dalam catatan sejarah barus juga memiliki pahlawan yang cukup banyak akan tetapi yang sering terdengar diera pasca kemerdakaan adalah KH. Zainul Arifin Pohan. Beliau lahir di barus 2 september 1909 kemudian meninggal di Jakarta pada 2 maret 1963 usia 53 tahun. Pada jaman colonial belanda beliau telah aktif dalam organisasi NU (GP-Anshor). Hal ini tentu saja menimbulkan ancaman bagi belanda bahwa hal ini merupakan bentuk mobilisasi massa. Pada masa penjajahan jepang beliau menjabat sebagai panglima Hizbullah Masyumi, dengan tugas utama mengkoordinasi pelatihan-pelatihan semi militer di Cibarusa Bogor. Akibat pergerakan yang dilakukannya pasca kemerdekaan KH Zainul Arifin Pohan dipercaya memegang tampuk jabatan penting dinegeri ini baik di legilatif maupun eksekutif. Salah satu jabatan terpenting yang pernah diemban dia adalah wakil perdana menteri Indonesia dalam cabinet Ali Sastromijoyo I yang memerintah dua tahu penuh pada masa 1953-1955. Dalam sejarah NU ia merupakan orang yang pertama menduduki jabatan tersebut.[2] Meskipun telah wafat KH Zainul Arifin Pohan masih memiliki banyak garis keturunan hingga saat ini. Baru-baru ini kita mendengar bahwa salah satu pengusaha asal Arab Saudi yang dating bersama Raja Salman yaitu KH Aidil Malik merupkan garis keturunan sang pahlawan tersebut.
Dalam hal kulturisasi Barus salah satu kota kecil yang sangat beragam etnis. Pluralisme etnis cukup banyak, mulai Batak Toba, mandailing, Nias, Pak-pak dll. Akan tetapi penduduk barus didominasi oleh etnis pesisir yang mayoritas islam. Tapi dalam interaksi social sehari-hari barus merupakan kota yang cukup damai dan hidup saling berdampingan satu sama lain. Hal ini diasumsikan sebagai bentuk sejarah peradaban dimana barus dahulu merupakan pelabuhan internasional dimana semua etnis singgah dan tinggal demi mencari kapur barus maupun rempah-rempah. Proses tersebutlah hingga saat ini masih terjaga meskipun modernisasi telah masuk secara terbuka. Dalam sisi kepercayaan koa barus didominasi oleh ummat islam, katolik dan protestan serta parmalim (kepercayaan batak).
Islam sebagai agama mayoritas di kota barus memiliki alasan tersendiri dimana pada masa lalu Barus merupakan gerbang masuknya islam di nusantara. Memang tidak ada teori yang valid dalam menjelaskan masuknya islam ke nusantara, sebab ada beberapa versi teori baik india, arab, cina, Persia dll memiliki argumentaasi terendiri. Akan tetapi bukti kongkrit yang ada di tanah bertua telah membuktikan bahwa ada peradaban serta masuknya islam melalui bagian barat samudra hindia melalui perdagangan. Sampai saat ini hal ini menjadi sebuah misteri khususnya bagi para arkeolog dan ilmuan lainnya. Hingga pada kurun waktu 1990an beberapa arkeolog dari francis dengan dibantu oleh pakar-pakar ilmuan yang berasal dari kota barus melakukan penelitian. Dalam riset tersebut banyak sekali ditemukan benda bersejarah seperti prasasti di lobu tua. Hal ini menandakan bahwa barus merupakan bukan suatu kota biasa melainkan memiliki nilai tersendiri dan sejarah yang cukup panjang.
Disisi lain bukti-bukti bahwa Islam masuk melalui barus tertuang dalam karya Dennis Lombord dimana sebagai pusat perdagangan dengan waktu bersamaan kepercayaan masuk. Sebab di kota barus ada banyak makam-makam bersejarah yang merupakan symbol keberadaan para pembawa ajaran islam di tanah air. Dengan kedatangan islam ke nusantara sekaligus sebagai mode of transfer atau sebagai kekuatan social,kulutral,ekonomi,militer dan spiritual. Bukti lain keberadaan barus sebagai kekuatan sejarah islam di nusantara adalah dengan bnyak makam-makam tuan-tuan syekh yang berada di kota kecil ini diantaranya makam papan tinggi, mahligai dll.
Barus dengan segala keunikannya merupakan menjadi tempat yang cukup berejarah di negeri ini. Cerita diatas merupakan sepenggal dari sejarah perkembangan kota barus. Sebenaranya daerah ini sangat berpotensi. Kota kecil ini banyak melahirkan tokoh-tokoh terbaik negeri ini. Hanya saja saat ini butuh perhatian khusun dan seyogyanya kota ini dapat memberikan banyak potensi. Baik sisi wisata alam, wisata religi dll. Dengan mengangkat kemunculan kembali sejarah barus diharapkan dapat menjadi cambuk bagi pemerintah daerah dalam mengangkat potensi dikota barus.


[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Barus,_Tapanuli_Tengah diakses pada 14 maret 2017 pukul 21.00 wib
[2] Ibid.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memilih Pemimpin di Tapanuli Tengah II (tulisan Lama)